Minggu, 01 Januari 2017

KIAT MENGATASI 8 PENYAKIT HATI (2)

Oleh: Abdullah Gymnastiar

      2. Buruk Lisan

Ada suatu cerita di mana seorang shaleh diminta untuk memasak suatu makanan yang enak oleh pemimpinnya. Orang itu pun menuruti keinginan sang pemimpin dan segera mengantarkan pesanan itu kepadanya. Ternyata, makanan tersebut sangat disukai oleh sang pemimpin karena rasanya yang lezat. Kemudian, sang pemimpin pun bertanya kepadanya tentang bahan makanan itu. Orang shaleh itu menjelaskan bahwa makanan tersebut terbuat dari lidah.
Kemudian, sang pemimpin itu menyuruhnya untuk membuat makanan yang rasanya tidak enak. Dia pun kembali ke rumah memasaknya. Begitu makanan tersebut siap, dia pun segera mengantarkannya kepada sang pemimpin.
Rupanya, makanan tersebut memang sangat tidak enak. Sang pemimpin bertanya kepada orang shaleh itu tentang bahan makanan yang dibuatnya. Ternyata jawabannya sama, bahwa makanan tersebut terbuat dari lidah.
Dari cerita ini, bisa kita pahami bahwa lidah yang tidak bertulang dan tidak berduri itu bisa membahayakan seseorang atau bisa juga menyelamatkan seseorang. Seseorang bisa terjerumus kepada permasalahan yang pelik disebabkan ia tidak mampu menjaga lisannya. Seseorang bisa bermusuhan dengan sesamanya juga disebabkan karena lisannya. Seseorang bisa menyebabkan orang lain terluka disebabkan pula oleh lisannya. Semua itu terjadi disebabkan ia tidak menjaga lisannya dari berkata dusta, keji, fitnah dan hal jahat lainnya.

Sebaliknya, seseorang bisa selamat dari segala hal sebagaimana disebutkan di atas adalah juga disebabkan lisannya. Karena ia mampu menjaga lisannya dengan baik. Dia selalu berpikir terlebih dahulu sebelum melontarkan suatu ucapan. Sehingga apa yang diucapkannya selal tertata baik. Jika demikian, maka orang-orang yang berada di sekitarnya pun akan merasa nyaman dan bisa mengambil manfaat. 

KIAT MENGATASI 8 PENYAKIT HATI (1)

Oleh: Abdullah Gymnastiar

  1. Amarah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”Berilah saya nasihat.” Kemudian beliau bersabda, “Janganlah marah.” Orang itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Janganlah marah.” (HR. Bukhari)
Jika kita ingin menjadi orang mulia, maka kendalikanlah amarah. Kita ingin menjadi ahli surga, salah satu kuncinya adalah mengendalikan amarah. Seseorang yang mudah mengumbar amarah, akan jauh dari keberhasilan.
Seorang suami pemarah akan merusak suasana rumah tangganya. Istri akan merasa tertekan dan anak-anak pun akan menjadi korban. Mereka bahkan bisa depresi karena suasana yang tidak nyaman di rumahnya, tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi mereka. Jika seorang suami bersikap demikian, maka sesungguhnya ia sudah berbuat zalim dengan mengemban amanah sebagai pemimpin keluarga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah seorang pemarah. Beliau adalah pribadi yang sangat dicintai keluarganya, sahabat-sahabatnya dan umatnya karena keluhuran akhlaknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pribadi yang penuh kelembutan dan kash sayang. Hubungan beliau dengan sesama dijalin atas dasar keimanan. Setiap masalah selalu diselesaikan dengan cara-cara terbaik. Beliau mendahulukan kebijaksanaan, bukan kemarahan.
Cara Mengendalikan Amarah
Pertama, andaipun harus marah, maka marahlah dengan cara sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yaitu marah yang benar, tegas dan santun. Insya Allah, marah dengan yang demikian akan memberikan jalan keluar terhadap permasalahan yang tengah dihadapi. (Lihat buku “Kiat Mengendalikan Amarah”)
Kedua, bersikaplah tawadhu dan jangan banyak keinginan. Karena di saat kita banyak keinginan, maka akan banyak sekali kemungkinan-kemungkinan kita akan merasakan kekecewaan yang berlanjut kepada kemarahan. Yaitu, saat keinginan-keinginan kita itu tidak terpenuhi.
Bukan berarti tidak boleh memiliki keinginan. Melainkan maksudnya adalah bahwa kita harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan. Karena tidak setiap keinginan kita akan terwujud. Semakin ingin dihargai, dihormati, dipuji, dikagumi, diberi balas budi, akan semakin sering sakit hati dan ngambek.
Ketiga, ucapkanlah, “`A’udzubillahi minasy syaithaanirrajiim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk). Karena kemarahan itu adalah bentuk hasutan syaitan.
Sulaiman Ibnu Sard radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Pernah dua orang yang saling mencerca satu sama lain di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara itu, kami sedang duduk di sisi beliau. Salah seorang dari mereka menghina yang lainnya diiringi kemarahan hingga merah mukanya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Aku mengetahui suatu kalimat yang jika diucapkan olehnya (orang yang sedang marah), maka akan hilang kemarahannya. Hendaklah dia berkata, “`A’udzubillahi minasyaithaanir rajiim (Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk).” (HR. Bukhari Muslim).
Keempat, diamlah sejenak. Jangan  bereaksi dahulu ketika amarah bergejolak. Karena akhlak itu adalah respon spontan. Sebagai contoh, saat kita keluar dari masjid dan kita mendapati sandal kita raib dari tempatnya. Dalam situasi seperti ini, ada orang yang secara spontan langsung mengungkapkan kejengkelan dan kemarahannya dengan kata-kata yang tidak baik.
Lebih baik diam sejenak sembari berpikir, ah barangkali sandalnya tertukar. Atau, oh barangkali sandalnya sedang dipinjam sebentar oleh seseorang yang tidak sempat memohon izin karena mendesak dan tidak tahu siapa pemilik sandal itu. Atau, oh barangkali sandalnya memang hilang bertanda tanda akan punya sandal baru. Toh, tidak mungkin jika kehilangan itu menyebabkan kita jadi tidak punya sandla seumur hidup.
Dalam sebuah haidts Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila di antara kalian marah maka diamlah.” Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam ucapkan sebanyak tiga kali.” (HR. Ahmad).
Kelima, sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila kita sedang dalam keadaan marah yang tidak juga bisa reda dengan sikap diam, apabila kita sedang berdiri, maka duduklah. Jika dengan duduk masih juga belum bisa reda, maka berbaringlah. Tentu saja bukan berarti harus berbaring di sembarang tempat. Maksudnya adalah, ketika amarah masih belum juga reda, carilah situasi yang lebih bisa menenangkan dan menetramkan hati.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika  salah seorang kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah duduk. Jika masih belum reda marahnya, maka hendaklah berbaring.” (HR. Ahmad).
Hal ini karena marah dalam keadaan berdiri lebih besar kemungkinannya untuk melakukan keburukan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih aman daripada duduk dan berdiri.
Keenam, ambillah wudhu. Air wudhu akan menentramkan hati yang panas dibakar amarah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya, kemarahan itu berasal dari syaitan. Dan syaitan tercipta dari api. Dan sesungguhnya, api itu dapat dipadamkan dengan air. Jika salah seorang di antara kalian marah, maka berwudhulah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).